Perlu diketahui bahwa spoonerism merupakan kesalahan bicara yang berkaitan dengan adanya tertukar susunan kata maupun hurufnya ketika seseorang berbicara. Sama seperti halnya dengan selip lidah atau slip of the tongue.
Istilah tersebut diambil dari nama seorang pria asal dari Inggris dengan mengalami hal serupa, yaitu William Archibald Spooner. Pemicunya bisa dikarenakan ada rasa gugup berlebihan, terlalu cepat ketika berbicara, serta kurang konsentrasi.
Pasalnya, selip lidah ini termasuk tidak berbahaya, bisa saja secara tidak sadar Anda pun pernah melakukannya. Bagi pengidap sindrom ini bisa melatih diri atau melakukan terapi wicara bersama Wicaraku.

Faktor Penyebab Terjadinya Gangguan Spoonerism
Adapun saat seseorang menukar bunyi kata saat mengucapkan dua kata atau lebih. Seperti mengucapkan “tulang punggung” menjadi “tunggang pulung” ketika pusat bicara otak sesaat menyebabkan kebingungan hingga kehilangan fokus.
Pasalnya, spoonerism juga bisa terjadi dalam bahasa lain, ketika seseorang mengganti bunyi yang berbeda dan menyebabkan bisa terjadi dalam bahasa apapun. Berikut ketahui beberapa penyebabnya yang perlu diketahui:
1. Kegugupan
Banyak dari seseorang yang kerap mengucapkan selip lidah saat berbicara terlalu cepat. Hal ini karena kehilangan fokus atau menjadi tidak fokus saat sedang berbicara.
Adapun kegugupan dapat meningkatkan kemungkinan Anda mengucapkan tertukarnya suku kata. Kemudian banyak yang menjadikannya sebagai lelucon dan membuat ketawa orang lain.
2. Disleksia
Adapun penyebab lainnya dari gangguan spoonerism adalah disleksia yang bisa berpengaruh untuk mengucapkan kata-kata kasar ketika berbicara. Penderita disleksia ini memiliki kategori dimana bunyi otak menjadi berkurang.
Dipengaruhi keterbatasan kategori bunyi ini bisa menyebabkan orang menjadi salah mengucapkan kata. Hingga terjadi penukaran bunyi kata membuat lawan bicara tidak memahami artinya.
3. Memikirkan Dua Frasa Secara Bersamaan
Kesalahan pengucapan kata juga bisa terjadi saat mengucapkan sebuah frasa sebelum memutuskan frasa mana yang akan diucapkan. Dimana otak dapat mengaktifkan dua frasa secara bersamaan.
Kemudian rencana yang akan diucapkan menjadi penyebab seseorang menjadi menggabungkan frasa dan bunyi tersebut. Gangguan spoonerism bisa Anda atasi dengan konsultasi bersama Wicaraku.
4. Berbicara Bahasa Kedua
Hal lainnya juga bisa mungkin saja terjadi saat Anda mengucapkan bahasa kedua. Bisa saja Anda mencampur bunyi kata saat mengucapkan dalam bahasa kedua karena Anda kurang familier dengan bahasa tersebut dibandingkan dengan bahasa utama.
Untuk lawan bicara yang sudah terbiasa akan mudah memahami maksud dan tujuan dari pembicaraan tersebut, namun untuk orang asing akan bingung mengenai maksud dari percakapan itu dan bisa menjadi salah dalam mengartikan.
Baca juga tentang : Terapi Wicara Daerah Palembang untuk Sindrom Angelman
Kenali Beberapa Gejala dari Spoonerism
Perlu diketahui, bahwa hal ini bukan suatu gangguan bicara atau bahasa. Biasanya sering terjadi tanpa disadari saat melakukan percakapan sehari-hari. Gangguan ini kerap terjadi karena tidak disengaja serta bisa dikaitkan dengan beberapa masalah tertentu, sebagai berikut:
1. Gangguan Pemrosesan Fonologis
Hal ini merupakan kesulitan dalam mengenali dan memanipulasikan bunyi dalam bahasa lisan. Meskipun spoonerism tersebut bisa saja tanpa adanya gejala langsung, namun bisa memberikan sebuah wawasan mengenai potensi masalah dalam pemrosesan bunyi.
2. Gangguan Bahasa
Banyak dari individu yang mengalami gangguan bahasa atau bicara bisa saja menunjukkan gangguan yang menjadi tantangan. Hal tersebut seperti ketika produksi suara, artikulasi, serta kesadaran fonologis.
Jika hal tersebut terjadi, Anda bisa mengatasinya dengan melakukan terapi wicara bersama Wicaraku. Akan dilakukan beberapa stimulasi untuk mengatasi gangguan bahasa tersebut.
3. Kondisi Neurologis
Banyak beberapa kasus lainnya, sering terjadinya bahasa lainnya menjadi gejala kondisi neurologis seperti afasia. Dimana hal tersebut dapat memengaruhi produksi hingga pemahaman bahasa.
4. Kelelahan atau Stres
Gangguan spoonerism bisa saja terjadi saat Anda mengalami kelelahan, stres, atau terganggu hal lainnya. Faktor inilah yang bisa berpengaruh terhadap produksi bicara dan pemrosesan kognitif.
5. Keterlambatan Perkembangan Bahasa
Umumnya, hal ini terjadi pada anak-anak yang dapat mengindikasi adanya perkembangan keterlambatan perkembangan bahasa hingga gangguan fonologis. Terutama jika hal tersebut disertai adanya masalah bicara serta bahasa lainnya.
Namun, gangguan ini menjadi hal umum dan biasa saja, sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Jika Anda mengalaminya atau kesulitan bicara dan bahasa lainnya, alangkah baiknya bisa berkonsultasi dengan ahli wicara untuk mengevaluasinya bersama Wicaraku.

Peran Penting Terapi Wicara untuk Mengatasi Spoonerism
Bersama peran dari terapi wicara bisa membantu Anda menargetkan pemrosesan bahasa serta masalah fonologis yang mendasarinya. Dimana bisa menjadi penyebab seringnya Anda mengeluarkan terselipnya lidah atau kesalahan frasa.
Meskipun menjadi suatu yang tidak berbahaya dan bisa saja semua orang mengalaminya, namun jika terjadi secara terus menerus akan mengindikasikan masalah bicara lainnya. Berikut beberapa cara terapi wicara untuk mengatasinya:
1. Kesadaran Fonologi
Dengan Anda melakukan terapi wicara bersama Wicaraku bisa meningkatkan kesadaran fonologis. Langkah ini berkaitan untuk memperbaiki kemampuan dalam mengenali dan memanipulasi bunyi dalam bahasa.
Sehingga, nantinya dapat membantu Anda terhindar dari pertukaran bunyi serta mampu meningkatkan kejelasan saat bicara. Penting dilakukan demi kelancaran saat berkomunikasi bersama orang banyak agar mudah dipahami.
2. Latihan Produksi Suara
Selanjutnya, melalui latihan tersebut akan menjadi lebih terarah. Anda akan berlatih menghasilkan bunyi serta fonem tertentu dengan benar bersama urutan yang tepat. Hal ini kerap mengurangi terjadinya gangguan spoonerism.
3. Latihan Artikulasi
Kami juga akan meningkatkan artikulasi bunyi dan berbagai kata. Pastinya dengan fokus terhadap ucapan yang jelas dan akurat. Hal ini dilakukan demi orang lain dapat memahami dan mengerti setiap maksud dan tujuan Anda saat memberikan pendapat.
4. Pemantauan Diri
Terapi ini akan mampu membuat individu untuk mengembangkan keterampilan pemantauan diri untuk mengenali saat terjadi gangguan pertukaran kata. Anda lebih bisa mengenali saat hal tersebut terjadi dan membuat koreksi selama berbicara bersama orang lain.
Dengan begitu nantinya akan terbiasa mengeluarkan ucapan yang sesuai dan tidak tertukar lagi antar kata. Hal ini sangat penting untuk Anda yang sering bertemu atau melakukan percakapan serius bersama rekan kerja.
5. Latihan Bicara Lambat
Selanjutnya, bersama kami juga akan dilakukan latihan bicara lambat dan disengaja. Tentunya hal ini bisa membantu Anda mengurangi kesalahan dalam memproduksi kata atau bahasa dan dilakukan dengan kefokusan.
6. Latihan Kognitif
Langkah ini nantinya akan membantu Anda meningkatkan pemrosesan bahasa serta pengorganisasian pikiran. Sehingga menghasilkan ucapan menjadi lebih tepat dan mudah dimengerti lawan bicara.
Baca juga tentang : Terapi Wicara Palilalia Pada Anak dengan Kondisi ASD
7. Pengulangan dan Latihan
Langkah ini akan kami lakukan dengan melakukan pengulangan dan latihan bunyi, kata, hingga frasa tertentu lainnya. Terapi wicara di Wicaraku akan membantu Anda dalam meningkatkan produksi bicara serta pengulangan frekuensi saat melakukan percakapan.
Beberapa hal tersebut nantinya bisa membantu individu yang mengalami masalah dalam pemrosesan bahasa atau produksi wicara menjadi lebih baik. Melalui langkah ini dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasa lebih tepat.
Dimana terapi wicara yang dipersonalisasi untuk mengatasi penyebab mendasar dari spoonerism yang seringkali terjadi pada sebagian orang. Jika Anda salah satunya bisa langsung berkonsultasi bersama Wicaraku melalui +62 895-4151-54575.
Referensi Penulisan:
Great Speech. “Is Spoonerism a Speech Disorder?”, https://www.greatspeech.com/is-spoonerism-a-speech-disorder/, diakses pada 21 Desember 2024.
Language Testing International. “25 Examples of Spoonerisms”, https://www.languagetesting.com/blog/examples-of-spoonerisms/, diakses pada 21 Desember 2024.
Hipwee. “Sering Belepotan Kalau Ngomong, Diduga Isyana Sarasvati Mengidap Sindrom Spoonerism”, https://www.hipwee.com/narasi/sering-belepotan-kalau-ngomong-diduga-isyana-sarasvati-mengidap-sindrom-spoonerism/#google_vignette, diakses pada 21 Desember 2024.















