Dikenal dengan spoonerism dalam dunia medis, masyarakat lebih mengenalnya dengan keseleo lidah alias tongue slip ini. Ini adalah sebuah kondisi di mana mengakibatkan pasiennya salah dalam mengucapkan kata-kata ketika sedang berbicara.
Di mana kata yang diucapkan tersebut tidak sesuai dengan pikiran mereka sehingga sering kali membuat orang lain salah paham. Sebagai contohnya seseorang hendak mengatakan “makan yuk”, justru mengucapkan “makin yuk”.
Perlu diketahui bahwa kondisi tersebut bukan hanya terjadi pada bahasa Indonesia saja, tetapi juga semua bahasa di dunia. Belum pasti apa yang mengakibatkan seseorang dapat mengalami masalah tersebut.

Tetapi tidak sedikit juga orang beranggapan jika spoonerism diakibatkan karena seseorang tidak pernah berbicara ataupun bersosialisasi. Padahal anggapan tersebut belum tentu sepenuhnya benar karena masih ada faktor risiko lainnya.
Itulah mengapa untuk memahami kondisi selip lidah tersebut maka ada sejumlah hal yang perlu diketahui dengan baik. Berikut ini merupakan ulasan lengkap mengenai kondisi gangguan bicara mulai dari pengertian hingga pengobatannya.
Asal Muasal Gangguan Bicara Spoonerism
Jika Anda sering bicara terbolak-balik atau bahkan sering salah dalam mengucap bisa jadi tanda dari gangguan bicara spoonerism ini. Meskipun awalnya hanyalah sebuah guyonan, tetapi kondisi tersebut sudah masuk ke dalam jenis gangguan dalam berbicara.
Itulah mengapa masalah tersebut harus segera mendapatkan penanganan dengan segera supaya kondisinya tidak semakin parah. Sebelum memahami bagaimana cara penanganannya, maka penting agar memahami asal muasalnya terlebih dahulu.
Istilah tersebut ternyata diambil dari nama seseorang yakni William Archibald Spooner di mana merupakan seorang penjaga New College, Oxford di Inggris (1844-1930). Pada saat itu, sang penjaga ternyata sering berbicara secara terbolak balik.
Di samping itu, gangguan tersebut juga dikenal dengan sebutan marrowsky di mana mirip dengan nama orang Polandia. Sebab pada saat itu, orang Polandia juga mengidap gangguan sama yakni berbicara secara terbolak-balik.
Perlu diketahui bahwa spoonerism awalnya merupakan bagian dari selip lidah alias tongue slip yang diakibatkan karena lidah penutur mengalami keseleo. Kondisi tersebut dapat disebabkan karena masalah kegugupan atau kurangnya fokus.
Gangguan dalam berbicara tersebut ternyata dapat terjadi pada kata, frasa ataupun kalimat tertentu. Keseleo lidah ini terkadang masih mampu menghasilkan adanya susunan kata yang masih bisa dipahami oleh orang lain.
Sebagai contohnya “bener dong” menjadi “bener dor” atau “New Year” Menjadi “Yew Near”. Di sisi lain, pasien kemungkinan juga akan kesulitan mengeluarkan suara yang jelas terutama kalau kondisinya parah.
Seiring dengan berkembangnya waktu, kondisi tersebut justru tumbuh menjadi sebuah permainan kata guna menciptakan humor tertentu. Ini tidak terjadi dalam bahasa Indonesia saja, tetapi juga bahasa lainnya.
Baca juga artikel: Perbedaan Lidah Normal dan Tongue Tie, Kondisi dan Dampaknya
Penyebab dari Keseleo Lidah Ini
Seperti sudah disinggung sebelumnya bahwa spoonerism disinyalir diakibatkan karena kurangnya bicara atau sosialisasi. Padahal jika dilihat lebih detail, hal tersebut belum sepenuhnya benar.
Sebab tidak sedikit publik figur yang ternyata juga mengalami masalah keseleo lidah tersebut. Terdapat beberapa faktor yang dipercaya menjadi penyebab dari masalah keseleo lidah ini diantaranya adalah.
1. Akibat Terlalu Tergesa-gesa Ingin Bicara
Seseorang yang mempunyai kebiasaan tergesa-gesa dalam berbicara ternyata juga berisiko salah dalam berbicara. Di mana dapat mengakibatkan kata yang sudah dipikirkan di otak tidak sesuai dengan yang keluar.
2. Kurangnya Fokus Dalam Bicara
Ketika sedang berbicara, maka kemungkinan besar fokus akan terganggu akibat berbagai hal. Sebagai contohnya ketika sedang berbicara dengan teman, namun ada teman lainnya yang justru bertanya akan hal lain.
Itu dapat mengakibatkan fokus dari mereka menjadi terganggu akibat pertanyaan dari teman lainnya. Kondisi itulah mengakibatkan mereka mungkin akan mengalami kesalahan saat sedang bicara.
3. Mengalami Grogi
Faktor penyebab lainnya seseorang dapat mengalami masalah spoonerism adalah karena mengalami adanya rasa grogi atau gugup terutama saat bicara di depan umum. Di samping itu, seseorang yang harus berbicara dengan orang baru terkadang juga mengalami grogi ini.
4. Terjadi Karena Spontan Begitu Saja
Kesalahan dalam mengucapkan kata atau kalimat tertentu juga dapat dipicu karena spontanitas begitu saja. Sebab terkadang orang—orang yang melakukan spoonerisme maka tidak akan sadar jika mereka salah dalam berbicara.

Tidak sedikit juga orang yang salah dalam berucap ini memang disengaja terutama untuk membuat lelucon. Sebab sebagian besar orang terkadang cenderung sadar ketika salah dalam berucap.
Tips Mengatasi Masalah Ini dengan Baik
Kondisi spoonerism ini sebenarnya dapat diatasi dengan baik asalkan pasien mengetahui bagaimana caranya. Di bawah adalah sejumlah tips dalam mengatasi gangguan dalam bicara ini dengan baik:
1. Silahkan Tarik Napas Dalam
Seperti sudah disinggung sebelumnya bahwa penyebab dari gangguan selip lidah adalah karena grogi ataupun cemas. Untuk mengatasi hal tersebut, cobalah tarik napas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk berbicara.
Hal itu tidak lain karena pernapasan pendek akan membuat seseorang merasa gugup dan cemas. Bahkan besar kemungkinan dapat mengakibatkan adanya masalah spoonerisme ini.
2. Cobalah Bicara Secara Perlahan
Berbicara dengan tergesa-gesa akan membuat seseorang lebih mudah dalam belibet sehingga mengakibatkan salah ucap. Itulah mengapa pentingnya agar berbicara dengan perlahan sekaligus jelas.
3. Gunakan Kata Pengisi
Beberapa kata pengisi seperti um dan eh ternyata juga dapat meminimalisir terjadinya spoonerism ini. Kendati demikian, sebisa mungkin harus menghindari penggunaan secara berlebihan agar tidak terdengar aneh.
4. Fokus Pada yang Akan Dikatakan
Beberapa orang yang mengalami masalah ini biasanya adalah karena mempunyai fokus terbelah-belah. Disinilah pentingnya agar menaruh fokus utama pada kata atau kalimat di mana hendak diucapkan saja.
5. Cobalah Minta Bantuan Profesional
Apabila masalah ini tidak dapat diatasi sendiri, maka cobalah meminta bantuan profesional. Misalnya saja dengan meminta bantuan para terapis wicara di mana dapat memberikan langkah terbaik untuk mengurangi salah dalam bicara.
Baca juga artikel: Kenali Gejala Tongue Tie, Penyebab dan Cara Mengobatinya
Segera Bawa ke Terapi Wicara Terpercaya
Seperti sudah disinggung sebelumnya bahwa spoonerism dapat diatasi dengan terapi wicara ini dengan baik. Saat ini sudah ada banyak layanan terapis wicara yang dapat dipilih, tetapi sebaiknya harus selektif dalam memilihnya.
Ada sejumlah tips yang perlu diperhatikan jika hendak memilih terapis misalnya saja dengan memperhatikan lisensinya. Layanan profesional pastinya sudah mempunyai lisensi sehingga dapat menjadi bukti jika mereka profesional di bidangnya.
Selain itu, cek pengalaman dan jam terbang yang dimiliki oleh pihak tempat terapi. Layanan dengan jam terbang tinggi pastinya dapat dipercaya oleh banyak orang dalam menghandle semua masalah.
Perhatikan juga metode terapi yang dimiliki dan pastinya lengkap sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. Mereka juga mempunyai jadwal dan lokasi fleksibel sehingga akan memberikan keuntungan tersendiri.
Wicaraku adalah layanan terapi wicara yang terpercaya dan profesional di bidangnya dalam mengatasi berbagai masalah saat berbicara. Jika Anda ingin mengatasi masalah spoonerism dengan cara fleksibel, maka minta bantuan segera ke nomor +62 895-4151-54575.
Referensi penulisan:
Klikdokter. “Articulation Disorder pada Anak, Bisakah Diatasi?”, https://www.klikdokter.com/ibu-anak/kesehatan-anak/articulation-disorder-pada-anak-bisakah-diatasi?srsltid=AfmBOopMZ7WboyFHHT9W1loRIjwJnvXwn-I0jqFcJWI85IzSl68c0mx3, diakses pada 14 Januari 2025.
Alodokter. “Ucapan yang keluar tidak sesuai dengan yang dipikirkan dan sulit mengingat”, https://www.alodokter.com/komunitas/topic/otak-dan-ucapan-tidak-sinkron, diakses pada 14 Januari 2025.
Alodokter. “Salah dalam melafalkan tulisan, sering berhalusinasi dan gelisah”, https://www.alodokter.com/komunitas/topic/typo-ketika-berbicara–sering-berhalusinasi-dan-gelisah-, diakses pada 14 Januari 2025.















