Daftar Isi
ToggleApa Yang Dimaksud Dengan Omisi? Saat anak sedang belajar bicara, orang tua sering mendengar ucapan yang “dipotong” atau ada bunyi yang hilang. Contohnya, anak bilang “makan” jadi “akan”, “sekolah” jadi “ekolah”, atau “kucing” jadi “ucing”. Sekilas terdengar lucu, tetapi ketika terjadi terus-menerus dan membuat ucapan sulit dipahami, orang tua mulai bertanya, ini normal atau perlu terapi.

Di dunia terapi wicara, kondisi “bunyi hilang” ini dikenal sebagai omisi. Omisi bukan sekadar salah ucap biasa, melainkan pola penghilangan bunyi atau suku kata tertentu saat berbicara. Karena pola ini dapat memengaruhi kejelasan bicara, omisi sering dibahas dalam asesmen dan program terapi, terutama pada anak yang mengalami keterlambatan bicara, gangguan artikulasi, atau gangguan fonologi.
Artikel ini membahas apa yang dimaksud dengan omisi dalam terapi wicara, mengapa bisa terjadi, kapan masih wajar, kapan perlu diwaspadai, dan bagaimana cara mengatasinya secara efektif. Anda akan mendapatkan gambaran yang lengkap, sehingga Anda bisa lebih tenang menilai kondisi anak dan lebih siap mengambil langkah yang tepat.
Omisi Dalam Terapi Wicara
Omisi dalam terapi wicara adalah penghilangan satu atau beberapa bunyi ujaran, bahkan bisa juga penghilangan suku kata, ketika seseorang mengucapkan kata. Artinya, anak sebenarnya sudah punya niat menyebut kata tertentu, tetapi sebagian bunyinya tidak muncul. Akibatnya, kata yang keluar menjadi lebih pendek atau terdengar “bolong”.
Omisi bisa terjadi di awal kata, di tengah, atau di akhir kata. Pada beberapa anak, omisi juga muncul pada gabungan konsonan, misalnya “kru” jadi “ku” karena anak menghilangkan salah satu bunyi. Selain itu, ada anak yang menghilangkan suku kata yang dianggap “lemah”, misalnya “banana” jadi “nana” atau “sekolah” jadi “kolah”.
Hal yang penting, omisi biasanya bukan terjadi sekali dua kali. Omisi cenderung muncul sebagai pola yang konsisten pada banyak kata. Pola inilah yang dinilai dalam terapi wicara, karena pola yang menetap dapat memengaruhi intelligibility, yaitu seberapa mudah ucapan anak dipahami orang lain.
Baca juga artikel: Makanan Yang Tidak Boleh Dikonsumsi Anak Speech Delay Waspada Bisa Hambat Perkembangan Bicara
Kenapa Omisi Bisa Terjadi
Ada beberapa alasan mengapa omisi terjadi, dan sering kali penyebabnya saling terkait. Pertama, anak sedang menyesuaikan kemampuan motorik bicaranya. Menggerakkan lidah, bibir, dan rahang untuk menghasilkan bunyi tertentu membutuhkan koordinasi yang kompleks. Karena itu, anak terkadang “memilih” jalur yang lebih mudah dengan menghilangkan bunyi yang terasa sulit.
Kedua, omisi bisa muncul karena proses fonologis, yaitu cara otak anak menyederhanakan bunyi bahasa saat sedang belajar. Ini cukup umum pada usia tertentu, tetapi biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia dan stimulasi yang tepat. Namun, jika prosesnya bertahan terlalu lama atau terlalu dominan, maka ucapan anak jadi sulit dipahami.
Ketiga, omisi bisa berkaitan dengan faktor pendengaran atau pemrosesan bunyi. Jika anak kurang menangkap detail bunyi tertentu, ia bisa kesulitan “memetakan” bunyi itu ke dalam ucapannya. Akibatnya, bunyi tersebut sering hilang atau tergantikan.
Keempat, omisi bisa dipengaruhi kebiasaan bicara yang sudah terbentuk. Ketika anak terbiasa dimengerti meskipun bunyinya hilang, ia tidak merasa perlu memperjelas. Karena itu, interaksi sehari-hari berperan besar untuk membantu anak sadar bahwa bunyi yang lengkap membuat orang lain lebih cepat memahami maksudnya.
Bentuk Omisi Yang Paling Sering Ditemui
Omisi paling sering muncul sebagai penghilangan bunyi awal, penghilangan bunyi akhir, atau penghilangan suku kata. Penghilangan bunyi awal biasanya membuat kata terdengar “mulai di tengah”, misalnya “bola” jadi “ola”. Penghilangan bunyi akhir membuat kata berhenti terlalu cepat, misalnya “makan” jadi “maka”. Sementara penghilangan suku kata sering terjadi pada kata yang lebih panjang, misalnya “kereta” jadi “reta” atau “sepatu” jadi “patu”.
Omisi juga bisa terjadi pada gabungan bunyi yang menantang, misalnya pada kata dengan konsonan rangkap atau bunyi yang jarang digunakan anak. Anak mungkin hanya mengambil satu bunyi yang paling mudah, lalu bunyi lainnya hilang. Saat ini terjadi terus-menerus, ucapan anak bisa terdengar semakin “pendek” dan sulit dipahami oleh orang di luar keluarga.
Dengan mengenali bentuknya, orang tua jadi lebih mudah memahami kenapa ucapan anak terdengar seperti “kurang lengkap”, dan sekaligus tahu bagian mana yang biasanya menjadi target latihan dalam terapi wicara.
Kapan Omisi Masih Wajar dan Kapan Perlu Diwaspadai
Pada usia awal belajar bicara, beberapa pola penyederhanaan bunyi bisa saja terjadi. Namun, ada tanda yang membuat omisi perlu diwaspadai, terutama jika intensitasnya tinggi dan tidak menunjukkan perbaikan dari waktu ke waktu. Misalnya, omisi terjadi pada hampir semua kata, sehingga orang di luar keluarga sulit memahami ucapan anak. Atau, omisi membuat anak sering frustrasi karena merasa sudah bicara tetapi orang lain tidak mengerti.
Perlu juga diwaspadai jika omisi bertahan lama hingga usia ketika teman sebaya sudah mulai lebih jelas berbicara. Jika anak sudah sering berinteraksi, sering diajak bicara, tetapi omisi tetap dominan dan tidak ada progres, maka asesmen profesional akan sangat membantu.
Selain itu, jika omisi disertai tanda lain seperti jarang merespons saat dipanggil, sering meminta pengulangan, atau tampak kesulitan meniru bunyi, sebaiknya orang tua mempertimbangkan evaluasi menyeluruh, termasuk kemungkinan pemeriksaan pendengaran. Langkah ini tidak untuk menakut-nakuti, tetapi agar penyebabnya lebih jelas dan penanganannya lebih tepat.
Bagaimana Terapis Menilai Omisi
Dalam sesi asesmen, terapis wicara biasanya mengamati pola bunyi anak melalui percakapan, permainan, dan tugas pengucapan kata. Terapis akan mencatat bunyi apa yang sering hilang, posisi mana yang paling sering diomisi, dan apakah omisi terjadi secara konsisten. Dari sini, terapis bisa menentukan apakah omisi lebih condong ke masalah artikulasi motorik, pola fonologis, atau gabungan keduanya.
Terapis juga akan melihat dampak omisi terhadap pemahaman lawan bicara. Kadang anak menghilangkan bunyi, tetapi masih cukup mudah dipahami karena konteksnya jelas. Pada kasus lain, omisi membuat banyak kata terdengar mirip, sehingga orang lain sering salah menangkap maksud. Penilaian dampak ini penting karena terapi bertujuan meningkatkan fungsi komunikasi, bukan hanya “membetulkan bunyi” semata.
Setelah itu, terapis akan menyusun target latihan yang bertahap. Targetnya bisa dimulai dari bunyi yang paling mudah dan paling sering dipakai anak, lalu perlahan menuju bunyi yang lebih kompleks. Pendekatan bertahap ini biasanya membuat anak lebih cepat merasakan keberhasilan, sehingga motivasinya naik.
Cara Mengatasi Omisi Dalam Terapi Wicara
Mengatasi omisi dalam terapi wicara biasanya dilakukan dengan pendekatan yang terstruktur dan disesuaikan dengan penyebabnya. Jika omisi terjadi karena pola fonologis, terapi sering berfokus pada kesadaran bunyi dan kontras makna. Anak dilatih memahami bahwa bunyi yang hilang bisa mengubah arti, sehingga ia terdorong untuk melengkapinya. Terapis juga melatih anak mendengar dan membedakan bunyi target sebelum meminta anak mengucapkannya.

Jika omisi lebih dominan karena kesulitan motorik bicara, terapis akan membantu anak membangun posisi mulut yang tepat dan urutan gerakan yang lebih stabil. Anak belajar memproduksi bunyi secara bertahap, lalu menggabungkannya ke dalam suku kata, kata, dan akhirnya kalimat. Ketika latihan berjalan konsisten, bunyi yang sebelumnya sering hilang mulai muncul dengan lebih otomatis.
Di banyak kasus, terapis menggabungkan strategi. Anak bukan hanya dilatih mengucapkan, tetapi juga dilatih mendengar, meniru, dan menggunakan kata tersebut dalam percakapan yang bermakna. Tujuannya jelas, yaitu agar perbaikan tidak hanya muncul saat latihan, tetapi juga terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Dukungan Orang Tua di Rumah
Peran orang tua sangat besar dalam membantu anak mengurangi omisi. Di rumah, Anda bisa membangun kebiasaan komunikasi yang membuat anak lebih sadar pada bunyi lengkap tanpa membuatnya merasa “diadili”. Ketika anak mengucapkan kata dengan omisi, Anda bisa menanggapi dengan versi yang benar secara natural. Misalnya, anak bilang “ucing”, Anda menjawab, “Iya, kucingnya lucu ya.” Cara ini memberi model yang benar tanpa memaksa anak mengulang berkali-kali.
Anda juga bisa menciptakan momen latihan yang terasa seperti bermain. Saat membaca buku bergambar, Anda bisa menekankan bunyi yang sering hilang dengan tempo yang lebih pelan dan jelas. Lalu, Anda bisa mengajak anak memilih, menunjuk, dan mencoba menyebut, tetapi tetap dengan suasana santai.
Yang paling penting, jaga konsistensi. Latihan singkat yang rutin lebih membantu daripada latihan panjang yang jarang. Ketika anak merasa komunikasinya semakin dipahami, rasa percaya dirinya naik, dan ia biasanya lebih berani mencoba bunyi yang sebelumnya ia hindari.
FAQ – Pertanyaan Seputar Omisi Dalam Terapi Wicara
Apa yang dimaksud dengan omisi dalam terapi wicara?
Omisi dalam terapi wicara adalah kondisi ketika anak atau seseorang menghilangkan bunyi tertentu atau bahkan suku kata saat mengucapkan kata. Akibatnya, kata menjadi lebih pendek dan bisa sulit dipahami, misalnya bunyi awal hilang, bunyi akhir hilang, atau suku kata tertentu tidak diucapkan. Omisi biasanya dinilai sebagai pola, bukan kejadian sekali dua kali.
Apakah omisi selalu berarti anak speech delay?
Omisi tidak selalu berarti anak speech delay, karena sebagian anak yang sedang belajar bicara memang masih menyederhanakan bunyi. Namun, omisi bisa menjadi salah satu tanda yang sering muncul pada anak dengan keterlambatan bicara atau gangguan fonologi, terutama jika terjadi pada banyak kata dan membuat ucapan sulit dipahami. Yang menentukan adalah intensitasnya, konsistensinya, dan apakah ada progres seiring waktu.
Kapan omisi perlu dibawa ke terapis wicara?
Omisi sebaiknya dikonsultasikan jika terjadi sangat sering, membuat orang di luar keluarga sulit memahami ucapan anak, atau tidak menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan meski sudah distimulasi. Konsultasi juga penting jika anak tampak frustrasi ketika berbicara, atau jika omisi disertai tanda lain seperti kesulitan meniru bunyi dan kurang responsif terhadap suara.
Bagaimana terapi wicara mengatasi omisi?
Terapi wicara mengatasi omisi dengan menargetkan bunyi yang sering hilang melalui latihan bertahap dan teknik yang sesuai penyebabnya. Jika omisi bersifat fonologis, terapis membantu anak memahami perbedaan bunyi dan makna, melatih kemampuan mendengar bunyi target, lalu mempraktikkannya dalam kata dan kalimat. Jika omisi terkait motorik bicara, terapis melatih posisi dan gerakan mulut agar anak lebih mampu memproduksi bunyi yang sebelumnya sering hilang.
Apa yang bisa orang tua lakukan di rumah untuk membantu?
Orang tua dapat membantu dengan memberi contoh ucapan yang benar secara natural, memperbanyak interaksi dua arah, dan membuat latihan terasa seperti permainan. Anda bisa mengulang versi kata yang benar dalam respons Anda, membaca buku bersama sambil menekankan bunyi target, dan menjaga latihan singkat tetapi rutin. Dukungan yang konsisten biasanya mempercepat progres, terutama jika selaras dengan program terapi.
Baca juga artikel: Apa Penyebab Palilalia Pada Orang Dewasa Yuk Kenali Faktor Dan Cara Mengatasinya
Informasi Pemesanan
Untuk Anda yang membutuhkan layanan terapi wicara anak atau dewasa ke rumah di daerah Jabodetabek, pemesanan dapat dilakukan melalui Wicaraku. Layanan tersedia setiap hari Senin hingga Minggu pukul 09:00–18:00. Anda bisa menghubungi telepon di +62 855-9216-4058 atau WhatsApp di +62 895-4151-54575 untuk informasi lebih lanjut. Konsultasi juga dapat dilakukan melalui email di info@wicaraku.id atau dengan mengisi formulir melalui tautan berikut Konsultasi: Klik Disini. Kantor kami berlokasi di QP Office, Perkantoran Tanjung Mas Raya, Blok B1 No. 44, Jakarta Selatan, 12530.
Terakhir diperbarui : Rabu, 24 Desember 2025
Referensi penulisan:
Jurnal Teras Kesehatan. “PENERAPAN METODE INTEGRAL STIMULATION TERHADAP ASIEN DISLALIA“, https://jurnal.politeknikalislam.ac.id/index.php/jutek/article/download/97/58, diakses 24 Desember 2025.
Jurnal UISU. “ANALISIS FONOLOGI PADA ANAK DOWN SYNDROME USIA 10 TAHUN (STUDI KASUS) DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA TEKS DESKRIPSI TEMATIK DI SLB“, https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/Bahastra/article/download/4116/pdf_1, diakses 24 Desember 2025.
Jurnal Universitas Sebelas Maret. “Error Articulation Pattern Analysis of Children with Autistic Syndrome“, https://jurnal.uns.ac.id/SHES/article/download/71211/39546, diakses 24 Desember 2025.
















