7 Komunikasi yang Baik Pada Anak Autisme

Wicaraku Writer

December 28, 2023

Wicaraku

Wicaraku Writer

December 28, 2023

Wicaraku

Bagikan Artikel

Sejak dulu ada berbagai cara komunikasi yang baik dengan anak-anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Orang tua dari anak autis mungkin menghadapi kesulitan untuk tetap “terhubung” dengan anak-anak mereka.

Hal ini disebabkan anak autis seringkali kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Padahal, mereka memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuan komunikasinya.

Jika Anda adalah orang tua dari anak autis, penting untuk selalu mendukung si kecil dalam hal komunikasi. Lantas, bagaimana cara menjalin komunikasi yang efektif dengan mereka? Cari tahu cara komunikasi yang baik di bawah ini.

Cara Membangun Komunikasi yang Baik dengan Anak Autis

Biasanya, orang tua akan mengembangkan komunikasi dengan anak autisnya melalui berbagai cara. Semua metode ini digunakan untuk membantu si kecil untuk meningkatkan keterampilan dan mengidentifikasi kelemahan mereka.

Namun dalam praktiknya, ketika orang tua melihat kekurangan anak sebagai kekuatan, anak diberdayakan untuk menggunakan apa yang mereka ketahui agar bisa berkomunikasi dengan baik.

Cobalah bermain peran atau diskusikan apa yang disukai si kecil, dia biasanya akan lebih fokus, lebih banyak berinteraksi, dan menikmati komunikasi. Seperti yang kita tahu, anak autis memiliki pola komunikasi yang berbeda, dan banyak dari mereka masih kesulitan berkomunikasi dengan teman sebaya dan anggota keluarganya.

Maka dari itu, cara terbaik untuk meningkatkan komunikasi yaitu dengan mengubah pola komunikasi pengidap autisme. Orang tua harus belajar komunikasi yang baik dan masuk akal bagi anak autisnya.

Daripada mencoba mengkondisikan anak untuk beradaptasi dengan anak lain dengan memahami bahasa yang tidak mereka pahami, anak autis dapat diberdayakan untuk menggunakan gaya komunikasi mereka sendiri dengan keluarga, pengasuh, atau teman sekelas. Berikut ini strategi yang bisa dicoba:

1. Tiru Anak

Meniru suara dan perilaku bermain si kecil akan mendorong mereka untuk lebih banyak terlibat dalam vokalisasi dan interaksi. Hal ini juga mendorong anak untuk meniru ayah dan ibunya.

Selama perilakunya positif, hendaknya orang tua meniru permainan anak. Ketika seorang anak menggulingkan suatu mainan, orang tua juga akan menggulingkan mainan tersebut. Orang tua juga bisa melakukan hal serupa jika si kecil menabrakkan mobil mainannya.

2. Bahasa Visual

Menurut penelitian, komunikasi yang baik berupa bahasa visual dapat meningkatkan bahasa sosial dan keterampilan komunikasi timbal balik. Bagi anak autisme, bahasa visual dapat digunakan untuk setiap kata, membuat rutinitas langkah demi langkah, dan berkomunikasi dengan teman sebayanya.

3. Gestur Tubuh

Ketika kata-kata sulit didapat, gerak tubuh dapat membantu anak autis berkomunikasi. Cara terbaik adalah mempelajari bahasa mereka dan mendengarkan instruksi mereka. Orang tua dapat merespons komunikasi dengan gestur atau gerak tubuh.

Meskipun komunikasi nonverbal dapat membuat frustasi orang tua, penting untuk memfokuskan kembali pada cara mengembangkan keterampilan komunikasi yang baik pada anak. Ini karena gestur mereka kemungkinan besar bersifat naluriah.

4. Menuliskan Kata di Label

Mengetahui dan mengucapkan kata-kata adalah dua hal yang berbeda. Karena anak autis mempunyai keterampilan pemrosesan visual yang baik, penggunaan label tertulis di rumah membantu mereka menginternalisasi bahasa tersebut.

5. Berikan Ruang Komunikasi

Jika orang tua terus-menerus berbicara, maka tidak akan ada ruang bagi anak untuk berkomunikasi. Memberikan ruang pada anak untuk berkomunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal, sangatlah penting.

Harap diingat bahwa tidak ada strategi komunikasi tunggal untuk meningkatkan komunikasi yang baik pada anak autis. Sebaliknya, orang tua dapat belajar terhubung dengan anak-anaknya dan membangun serta meningkatkan komunikasi dengan mendengarkan sinyal dari mereka.

6. Terapi Keluarga

Terapi keluarga merupakan langkah selanjutnya dalam menangani autisme. Terapi ini ditujukan bagi orang tua dan keluarga anak autis. Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengajarkan keluarga bagaimana berinteraksi dengan pasien sekaligus mengajarkan pengidap berbicara dan berperilaku normal.

7. Terapi Perilaku dan Komunikasi

Komunikasi yang baik selanjutnya adalah terapi perilaku. Analisis perilaku terapan (AB) adalah contoh terapi perilaku dan komunikasi yang digunakan untuk meningkatkan perilaku positif dan mencegah perilaku negatif.

Selain itu, penyandang autisme juga dapat memanfaatkan terapi wicara untuk meningkatkan keterampilan komunikasinya. Jika Anda berminat, bisa mengunjungi ahlinya.

Berikut Ini Ciri-Ciri Anak Autisme

Gejala autisme cukup beragam, dan setiap anak dengan kondisi ini mungkin menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Gejalanya hampir mirip dengan sindrom Pitt-Hopkins. Namun secara umum anak autis memiliki tiga ciri utama, yaitu sebagai berikut:

1. Gangguan Berkomunikasi

Anak autis seringkali mengalami gangguan komunikasi seperti kesulitan berbicara, menulis, membaca, dan memahami bahasa isyarat seperti menunjuk dan melambai. Hal ini membuatnya sulit untuk memulai percakapan dan memahami arti kata-kata atau instruksi yang diberikan orang lain kepadanya.

Tidak jarang anak autis mengulang-ulang satu kata atau kata yang didengarnya beberapa waktu lalu (echolalia), sehingga menyerupai latah.

Mereka juga kerap mengatakan sesuatu dengan nada bicara tertentu atau seperti sedang bersenandung. Berangkat dari hal inilah Anda harus memahami komunikasi yang baik dengan terapi wicara.

2. Gangguan dalam Berhubungan Sosial

Anak autis sulit bersosialisasi, hal ini merupakan salah satu ciri khasnya. Mereka kerap kali tampak asyik dengan dunianya sendiri sehingga sulit berhubungan dengan orang di sekitarnya. Anak-anak dengan autisme mungkin tampak kurang responsif atau sensitif terhadap perasaan mereka sendiri atau orang lain.

Akibatnya, mereka cenderung tidak memiliki teman, tidak suka bermain, atau sekedar berbagi mainan dengan teman sebayanya. Di sekolah, ia juga akan berkonsentrasi pada suatu benda atau mata pelajaran tertentu saja.

3. Masalah Perilaku

Selain dua ciri diatas, berikut adalah beberapa pola perilaku umum yang terlihat pada anak autis:

• Tanpa alasan yang jelas, menjadi marah, menangis, atau tertawa.

• Hanya menikmati atau mengonsumsi makanan tertentu.

• Berulang kali melakukan tindakan atau gerakan tertentu, seperti mengayunkan lengan atau memutar badan.

• Hanya tertarik pada objek atau topik tertentu.

• Melakukan aktivitas yang membahayakan diri sendiri, seperti menggigit tangan erat-erat atau membenturkan kepala ke tembok.

Meski begitu, gejala autisme tidak selalu negatif. Beberapa anak autis memiliki kelebihan atau bakat di bidang tertentu, seperti kemampuan belajar secara detail dan mengingatnya dalam waktu lama, atau minat mempelajari seni musik dan menggambar. Untuk memahami mereka, tentu harus mengetahui cara komunikasi yang baik.

Diagnosis Anak Autisme Jangan Sampai Salah

Ciri-ciri anak autis terkadang mirip dengan kelainan lain, seperti gangguan kecemasan atau sindrom Asperger, dan sering kali dikaitkan dengan sindrom savant. Oleh karena itu, anak yang diduga mengidap autisme harus diperiksakan ke dokter anak.

Saat mendiagnosa autisme pada anak, dokter akan mengevaluasi tumbuh kembang anak, seperti kemampuannya berbicara, berperilaku, belajar, dan bergerak. Jika dari evaluasi di atas ditemukan beberapa masalah, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan tambahan seperti tes pendengaran, tes genetik, dan konsultasi psikologi anak.

Sayangnya saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan autisme. Namun ada beberapa metode terapi yang dapat digunakan untuk membantu anak autis meningkatkan kemampuannya. Dengan cara ini, ia dapat berpartisipasi dalam kegiatan serupa dengan teman-temannya.

Mengenali ciri-ciri anak autis sangatlah penting agar diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat dimulai sesegera mungkin. Jika Anda melihat adanya tanda atau gejala autisme pada anak, sebaiknya bawa ia ke dokter untuk memastikan kondisinya.

Terlepas dari beberapa cara diatas, orang tua juga harus berkonsultasi dengan psikolog anak dan melakukan terapi khusus untuk mendiskusikan masalah ini. Kabar baiknya, Anda bisa menggunakan jasa Wicaraku dengan menghubungi nomor +62 895-4151-54575, sehingga akan dibantu untuk mempraktikkan cara komunikasi yang baik.

Subscribe To Our Newslater

Get updates and learn from the best

Subscribe To Our Newslater

Get updates and learn from the best

Kondisi Sulit Berbicara Disartria, Kenali Jenis dan Terapinya

Anak Terlambat Bicara dan Kecerdasannya, Apa Lebih Istimewa?

Kenali Tanda Anak Speech Delay yang Sering Diabaikan

Do You Want To Boost Your Business?

Meningkatkan client yang membutuhkan layanan Fisioterapis di klinik Anda, anda bisa bekerja sama
dengan kami!

Layanan Kami

Konsultasi Gratis

Konsultasi via WhatsApp gratis untuk selamanya.

Earl Package

  • 6x Kunjungan
  • 45 – 60 Menit/Kunjungan
  • Menggunakan talk tools
  • Pesan Hari ini, bisa langsung datang

King Package

  • 8x Kunjungan
  • 45 – 60 Menit/Kunjungan
  • Menggunakan talk tools
  • Pesan Hari ini, bisa langsung datang

Emperor Package

  • 12x Kunjungan
  • 45 – 60 Menit/Kunjungan
  • Menggunakan talk tools
  • Pesan Hari ini, bisa langsung datang

Crown Package

  • 15x Kunjungan
  • 45 – 60 Menit/Kunjungan
  • Menggunakan talk tools
  • Pesan Hari ini, bisa langsung datang

Royal Package

  • 30x Kunjungan
  • 45 – 60 Menit/Kunjungan
  • Menggunakan talk tools
  • Pesan Hari ini, bisa langsung datang